Minggu, 08 Juli 2012

SEJARAH MEDIA MASSA SECARA GLOBAL


Nama               : Nur Aisah Budi Asinta
NIM                : 26.10.1.1.018
Prodi                : KPI
Mata Kuliah     : Komunikasi Massa


Sejarah Media Massa


Sejarah media massa secara global

Awal mula perkembangan teknologi komunikasi dimulai dari perkembangan teknologi percetakan, kemudian radio, dan menyusul televisi. Konsep dasar percetakan secara mekanis telah dikembangkan di cina da korea pada tahun 600 SM. Sebelum perkembangan konsep dasar percetakan, sekitar 45 abad yang lalu, di Mesir, dokumen penting di tumbuk, dan dipres oleh pita-pita daun papirus basah, yang diletakkan ditumpuk, bersilang sampai membentuk lembaran tipis dan padat, kemudian dijemur hingga kering.
Temuan itu dilakukan untuk memudahkan penyimpanan dan pembawaan dokumen dalam jumlah banyak. 3000 tahun berikutnya, sebagian besar abjad dan piktografi Mesir diganti dengan simbol fonetik dan abjad modern, tulisan dalam peradaban barat. Pada abad ke-8 dan ke-9, orang Arab mulai belajar mencetak dokumen dan menemukan pembuatan kertas dari kain. Bangsa Arab segera menyadari keuntungan percetakan kertas kain dan mulai menghasilkan buku religius. Karena islam mendorong penyebaran ilmu pengetahuan dan ajaran Rasulullah SAW, mencetak dengan kertas segera menyebar luas di kalangan bangsa Arab. Orang Eropa sudah mengetahui adanya teknologi percetakan dokumen ini sejak lama, namun mereka tidak berminat mengabaikannya hingga abad-15 yaitu masa renaissance. Sejarawan media, Anthony Smith mengatakan, “Cetak-mencetak di Eropa berkembang langsung dari permintaan naskah-naskah yang tidak dapat dipenuhi oleh tulisan tangan. Pada tahun 1500, sudah terdapat lebih 1.100 percetakan di 200 kota Eropa yang telah menghasilkan sekitar 12 juta buku dalam 3.500 edisi”.
Pada Abad-17 ditemukan surat kabar the London Gazette yang terbit tahun 1707. Surat kabar tadinya hanya berfungsi sebagai catatan harian perdagangan bagi kelas saudagar. Isinya hanya pengumuman kedatangan dan keberangkatan kapal, catatan cargo, harga-harga barang, dan berita seputar negara asing. Hingga pada tahun 1833, seorang bernama benyamin Day mulai menerbitkan surat kabar di New York bernama The New York Sun, yang dijual di jalan-jalan dengan harga satu sen.

Ilmu Komunikasi masuk Ke Indonesia
Media Cetak
Sebenarnya tanpa disadari oleh manusia termasuk Masyarakat Indonesia, bahwa komunikasi sudah terjadi sejak dia lahir. Meskipun bayi belum bisa berbicara, namun dia juga melakukan komunikasi. Yaitu dengan cara menangis jika lapar.
Di Indonesia perkembangan ilmu komunikasi diawali oleh perkembangan surat kabar, kemudian radio, dan televisi. Sebelum era Orde Baru, Hill (1995), menyatakan bahwa media massa Indonesia merupakan forum untuk mengekspresikan aspirasi nasionalisme dan agitasi politik. Surat kabar yang terbit pertama kali di Indonesia adalah Bataviasche Nouvelles en Politique Rasionemenentes.  Sebagian dari organ pemerintahan Belanda, surat kabar yang terbit pada tahun 1745 ini, lebih banyak menampilkan iklan untuk kepentingan komersial. Pada tahun 1855, terbit surat kabar berbahasa nonbelanda (jawa) di solo, yang bernama Bromartani.
Pada tanggal 17 Agustus 1903, Tirtoadisuryo menerbitkan Sunda Berita. Dan 4 tahun kemudian, ia menerbitkan Medan Prijanji. Kedua surat kabar tersebut menggambarkan situasi politik di Indonesia dan memberikan interpretasi terhadap situasi tersebut dari sudut pandang nasionalisme. Sampai dengan terjadinya Sumpah Peumuda pada tahun 1928 hingga masa akhir kekuasaan kolonial Belanda, di Indonesia terdapat 33 surat kabar dengan tiras, 47 ribu eksemplar, yang terdiri dari : 13 surat kabar berbahasa Indonesia, 12 bahasa Cina, 8 yang menggunakan bahasa Indonesia atau Melayu.

Radio
Selain surat kabar, radio juga merupakan media yang tergolong tua usianya di Indonesia. Radio siaran yang pertama kali mengudara di Indonesia adalah BRV (Bataviasche Radio Vereniging) pada 16 Juni 1925, milik swasta yang beroprasi di Jakarta. Pada awal tahun 1960, siaran radio memasuki masa penting dengan dikembangkannya teknologi siaran menggunakan frekuensui FM. Teknologi FM, sebenarnya telah ditemukan pada tahun 1930, namun ketika itu hanya sedikit saja pesawat radio bisa menerima siaran FM. Walaupun daya jangkau lebih rendah, namun dibandingkan AM siaran FM menghasilkan suara yang lebih jernih dan efek suara stereo.
Secara defacto Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia tumbuh sebagai perkembangan profesionalisme “ radio amatir” yang dimonotori kaum muda di awal Orde Baru tahun 1996. Sedangkan secara yuridis keberadaan Radio Siaran Swasta diakui, dengan persyaratan, penyelenggaraannyaber-Badan Hukum dan dapat menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Ri nomor 55 Tahun 1970 tentang Radio Siaran Non  Pemerintah, yang mengatur fungsi, hak, kewajiban, dan tanggung jawab radio siaran, syarat-syarat penyelenggaraan, perizinan serta pengawasannya.

Televisi
Tahun 1922, seorang remaja berusia 15 tahun Philo Farnsworth mengemudikan sebuah traktor maju mundur yang mengikutialur di sebuah ladang di Idaho, AS. Gambar yang dihasilkan menginspirasikan untuk menciptakan serangkaian gambar elektronik sebagaimana dalam alur ladang. Pada tahun 1927 Farnsworth dan AT&T mendemonstrasikan penemuan televisi dihadapan publik, sejak itu televisi menjadi media massa.
Perkembangan televisi terhambat selama perang dunia II, karena bahan baku komponen pesawat televisi dialokasikan ke industri perang. Setelah perang selesai pada tahun 1945, penyiaran televisi kembali menggeliat. Ketika itu AT&T menemukan teknologi baru penyiaran jaringan televisi dengan kabel coaxical dengan menu utama seputar olahraga.
Pada tahun 1948 telah ada satu juga set televisi di AS dengan stasiun mencapai 50 buah. Atas pertimbangan banyaknya jumlah setasiun televisi FCC (Federal Communication Comision) lalu menghentikan izin operasional stasiun baru. Setelah frekuensi ditata ulang. FCC kembali mengizinkan operasionalisasi siaran stasiun baru. Stasiun TV pun melonjak menjadi 108 buah 4 tahun setelah pembekuan. Jumlah pesawat televisi juga mmelejit hingga mencapai 15 juta pada tahun 1952.

Film
            Film adalah sarana baru yang digunakan untuk menyebarkan hiburan yang sudah menjadi kebiasaan terdahulu, serta menyajikan, cerita, peristiwa, music, drama dan sajian teknisi lainnya kepada masyarakat umum. Kehadirannya film adalah sebagai penemuan untuk waktu luang di luar jam kerja atau sebagai kebutuhan diwaktu senggang.
            Dalam sejarah perkembangan film ada 3 tema besar dan satu atau 2 tonggak sejarah penting. Tema pertama adalah pemanfaatan film sebagai alat propaganda, tema yang kedua adalah munculnya beberapa aliran seni film (Huaro,1963) dan lahirnya aliran film dokumentasi social. Kedua tema ini mempunyai kaitan dengan tema propaganda.
            Salah satu tonggak sejarah yang disebut tadi ialah lahirnya televise. Tonggak sejarah kedua yang ditulis dengan baik oleh Tunstall (1977) adalah besarnya pengaruh “Amerikanisasi” terhadap industri dan budaya film pada tahun-tahun sesuai perang Dunia I. dapat dibuktikan dengan jelas bahwa televise mengambil alih banyak penonton film, terutama penonton yang sudah berkeluarga. Sehingga para penonton film semakin sedikit dan yang menonton kebanyakan berusia muda. Salah satu konsekuensi terakhir dengan adanya tonggak peralihan tersebut adalah menurunnya kebutuhan akan penyajian yang sehat dan terhormat. Dengan kata lain film lebih bebas memenuhi kebutuhan akan sajian yang berbau kekerasan, mengerikan dan pornografi.
            Terlepas dari kenyataan menurunya jumlah penonton film, film justru mampu mencapai kekhususan tertentu (Jowett And Linton 1980) yakni sebagai sarana pemeranbagi media lain dengan sebagai sumber budaya yang berkaitan erat dengan buku, film kartun, bintang televise dan film seri serta lagu. Dengan demikian film berperan sebagai pembentuk budaya massa. Bukan semata-mata mengharapkan media lainnya sebagai peran film pada massa kejayaannya yang lalu.

Sejarah Internet Di Indonesia

Di Indonesia jaringan internet mulai dikembangkan pada tahun 1983 di Universitas Indonesia, yaitu UINET oleh Dr. Joseph F.P. Luhuley, seorang doktor Filosofi Ilmu Komputer dari Amerika Serikat. Jaringan tersebut dibangun dalam waktu 4 tahun. Selain itu pula ia membangun Uninet (University Network) di lingkungan Departemen dan Kebudayaan. Uninet merupakan jaringan komputer dengan jangkauan yang lebih luas, yaitu meliputi kampus UI, ITB, IPB, UGM, ITS, UNHAS, dan Ditjen Dikti.
Hingga pertengahan tahun 1990-an jangkauan internet di Indonesia semakin meluas, merambah hingga ke pihak-pihak yang bahkan tidak memiliki komputer atau sambungan telepon di rumahnya. Akses internet terhadap publik yang semakin luas ini tentu jauh dari pengawasan dibandingkan telepon dan faks untuk umum. Tak ada data yang mampu menyebutkan tentang siapa pengguna internet. Dari segi teknis terdapat kesulitan untuk menyensor arus pesan di internet. Hal ini pula yang nantinya menjadi sebuah problem penting pada masa rezim Soeharto.
Pada awal perkembangannya, internet dimulai dari kegiatan-kegiatan yang bersifat non-komersial, seperti kegiatan-kegiatan berbasis hobi, dan dalam perkembangan selanjutnya kebanyakan diprakarsai oleh kelompok akademis atau mahasiswa dan ilmuwan yang sebagian pernah terlibat dengan kegiatan berbasis hobi tersebut melalui upaya membangun infrastruktur telekomunikasi internet. Peranan pemerintah Indonesia dalam perkembangan jaringan internet di Indonesia memang tidak banyak, namun juga tidak dapat dikesampingkan, karena mereka juga turut berperan dalam berkembangnya sebuah sistem informasi di dalam internet yang kemampuan aksesnya tinggi atau sering disebut dengan Information Superhighway.



DAFTAR PUSTAKA

http://blogkeandhi.blogspot.com/2010/06/sejarah-media-massa-di-indonesia-e.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Selamat Datang Di Sshientha Blog, Semoga Memberikan Informasi yang Bermanfaat